Pada hari ini, tujuh raksasa teknologi termasuk Google, Meta, Microsoft, Oracle, OpenAI, Amazon, dan xAI berkumpul bersama Presiden Donald Trump untuk menandatangani sebuah janji perlindungan pembayar listrik. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran bipartisan mengenai lonjakan tarif listrik seiring dengan rencana pemerintah dan perusahaan-perusahaan teknologi untuk membangun pusat data AI baru.
Ketika Komunitas Khawatir tentang Lonjakan Biaya
Dalam acara tersebut, Trump menyatakan, “Perusahaan teknologi memerlukan bantuan publik karena masyarakat beranggapan bahwa keberadaan pusat data akan membuat harga listrik meningkat.” Pernyataan ini muncul mengingat beberapa pusat data sebelumnya ditolak oleh komunitas setempat karena alasan yang sama. Namun, Trump optimis bahwa situasi ini akan berubah.
Di acara tersebut, Trump juga mengeluarkan sebuah proklamasi resmi yang memperkenalkan janji perlindungan pembayar listrik, menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut akan “membangun, membawa, atau membeli sumber daya dan listrik generasi baru untuk memenuhi kebutuhan energi mereka, serta membayar semua pembaruan infrastruktur penyampaian daya yang diperlukan untuk mendukung pusat data mereka.”
Peningkatan Permintaan Listrik di Tengah Perkembangan AI
Langkah ini diambil ketika perusahaan teknologi berusaha meredakan penolakan terhadap pusat data yang memerlukan konsumsi listrik yang sangat besar dalam pelatihan dan pengoperasian model AI generatif. Menurut laporan dari kelompok advokasi Climate Power, tagihan listrik rumah tangga mengalami kenaikan 13 persen secara nasional pada tahun 2025, dan permintaan listrik untuk pusat data diperkirakan dapat meningkat dua hingga tiga kali lipat pada tahun 2028 menurut estimasi Kementerian Energi AS.
Proklamasi tersebut menyatakan bahwa tujuh perusahaan yang hadir dalam acara itu telah “menerima syarat-syarat dari Janji Perlindungan Pembayar Listrik” dan bahwa “komitmen yang terkandung di dalamnya merefleksikan kebijakan nasional Amerika Serikat.” Namun, perusahaan-perusahaan tersebut tetap perlu “bernegosiasi secara sukarela” dengan utilitas dan pemerintah negara bagian.
Komitmen untuk Mengurangi Dampak pada Jaringan Listrik
Trump menekankan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi ini akan bertanggung jawab untuk menambah kapasitas jaringan listrik “jika memungkinkan.” Mereka juga diharuskan untuk menanggung biaya pembaruan infrastruktur listrik yang ada guna memenuhi permintaan yang terus meningkat. Selain itu, Trump menambahkan bahwa perusahaan harus bernegosiasi mengenai struktur tarif terpisah dengan utilitas, sebagai upaya untuk memastikan bahwa mereka membayar tarif yang adil atas tekanan tambahan yang diberikan pusat data kepada jaringan listrik.
Bahkan jika pusat data tidak menggunakan seluruh tambahan listrik yang dihasilkan, perusahaan tetap bertanggung jawab atas biaya tersebut. Ini merupakan langkah penting untuk mengatasi kekhawatiran masyarakat lokal yang takut akan tanggung jawab biaya jika proyek pusat data tidak berjalan sesuai harapan.
Kesiapan untuk Menyediakan Energi Cadangan
Trump juga menyatakan bahwa para raksasa teknologi ini akan “memanfaatkan infrastruktur mereka untuk menyuplai daya cadangan ke jaringan lokal saat dibutuhkan.” Mengurangi penggunaan daya pusat data pada saat permintaan listrik mencapai puncaknya — seperti pada badai salju musim dingin yang parah atau gelombang panas — dapat membantu mencegah pemadaman listrik saat bencana. Pada tahun ini, badai salju telah menimbulkan kekhawatiran mengenai bagaimana pusat data baru dapat semakin membebani jaringan listrik dan meningkatkan harga listrik saat bencana terjadi.
Pada tahun lalu, Texas mengesahkan undang-undang yang memberikan kewenangan kepada operator jaringan lokal untuk mengurangi penggunaan energi pusat data selama keadaan darurat. Namun, janji tersebut masih bersifat umum, menyatakan bahwa perusahaan akan “sebisa mungkin, menyediakan sumber daya pembangkitan cadangan mereka pada saat kekurangan.”
Inovasi untuk Masa Depan
Selama acara, Gwynne Shotwell, Presiden dan COO SpaceX, menyampaikan bahwa xAI berencana untuk mengembangkan pembangkit listrik berkapasitas 1,2 gigawatt sebagai sumber daya utama bagi superkomputernya. Inovasi ini diharapkan mampu mendukung kebutuhan energi yang semakin meningkat di era teknologi saat ini.
Dengan adanya inisiatif ini, diharapkan akan terjadi sinergi antara pengembangan teknologi dan kebutuhan energi yang berkelanjutan, sehingga mengurangi dampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan. Komitmen ini tidak hanya akan mempengaruhi ekosistem teknologi di Amerika Serikat, tetapi juga memberi dampak yang signifikan bagi pasar teknologi yang terus berkembang, termasuk di Indonesia.
