David Sacks, czar AI dan kripto di Gedung Putih, memberikan peringatan serius terkait konflik yang berkepanjangan di Iran. Dalam podcast All In, Sacks menekankan perlunya menemukan “jalur keluar” dari situasi yang semakin memburuk ini. Dia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa Iran dapat menghancurkan infrastruktur minyak dan gas di seluruh Timur Tengah, yang berpotensi memicu krisis kemanusiaan yang lebih besar, terutama jika fasilitas desalinasi yang menyediakan air untuk banyak wilayah menjadi target.
Walaupun Sacks tidak dikenal sebagai pendukung upaya kemanusiaan, dia memiliki catatan yang jelas sebagai seorang yang anti-intervensi. Dalam pidatonya di RNC, dia bahkan berargumen bahwa Amerika Serikat “memprovokasi” Rusia untuk menginvasi Ukraina. Meskipun pernah menjabat di pemerintahan Trump, Sacks tetap terlibat di sektor swasta dan memiliki kepentingan finansial untuk segera menyelesaikan konflik ini, karena menurutnya, itu adalah apa yang diinginkan pasar.
Risiko bagi Industri AI
Perang di Iran tidak hanya berdampak pada geopolitis, tetapi juga mengancam industri AI yang berada di bawah pengawasan Sacks. Serangan drone Iran telah memaksa QatarEnergy untuk menghentikan produksi gas alam cair dan helium. Menurut Bloomberg, perusahaan ini menyuplai sepertiga dari pasokan helium dunia, yang sangat penting untuk industri elektronik dan pembuatan semikonduktor. Ekonom Andreas Steno Larsen mengungkapkan kepada Yahoo! Finance bahwa “Ini bisa berpotensi menjadi kendala bagi seluruh narasi AI.”
Implikasi bagi Indonesia
Dampak dari konflik ini juga dapat dirasakan di Indonesia. Sebagai negara yang terus mengembangkan teknologi AI dan industri terkait, ketidakstabilan pasokan helium dan sumber daya lainnya dapat memengaruhi biaya produksi dan inovasi. Selain itu, dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Indonesia sebagai negara yang bergantung pada stabilitas energi global mungkin akan menghadapi tantangan dalam pengadaan energi dan sumber daya.
Kesimpulan
Dengan peringatan yang disampaikan oleh David Sacks, kita diingatkan akan kompleksitas hubungan internasional dan dampaknya terhadap industri teknologi. Perang di Iran tidak hanya berpotensi menimbulkan krisis kemanusiaan, tetapi juga mengancam kemajuan teknologi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penting untuk memantau perkembangan ini secara cermat dan mempertimbangkan langkah-langkah yang dapat diambil untuk melindungi industri dan sumber daya di tanah air.
