Di dunia yang semakin dikuasai oleh teknologi kecerdasan buatan (AI), pernyataan “Ini terlihat seperti AI” menjadi momok bagi banyak penulis, ilustrator, dan fotografer amatir. Ketika AI semakin mampu meniru karya manusia, skeptisisme masyarakat terhadap konten yang tidak ditandai sebagai buatan manusia pun meningkat. Hal ini memunculkan ide untuk memberi label pada karya yang diciptakan oleh manusia, mirip dengan logo Fair Trade yang dikenal luas.
Solusi untuk Membedakan Karya Manusia dan AI
Adam Mosseri, kepala Instagram, mengemukakan gagasan serupa pada bulan Desember lalu. Ia menyatakan bahwa akan lebih praktis untuk menandai media asli daripada media palsu seiring dengan kemajuan teknologi AI yang kian sulit dibedakan dari karya profesional. Hasil survei terbaru dari Reuters Institute menunjukkan bahwa banyak orang meragukan keaslian konten di situs berita, platform media sosial, dan hasil pencarian mesin pencari.
Standar kredensial konten C2PA yang sudah diterapkan di platform Meta seharusnya dapat membantu mengautentikasi karya buatan manusia. Namun, implementasinya hingga saat ini belum efektif. Banyak pembuat konten AI berusaha menyembunyikan asal-usul karya mereka demi mendapatkan klik dan keuntungan finansial.
Beragam Badge untuk Membedakan Karya Manusia
Berbagai solusi telah muncul untuk membantu kreator manusia membedakan karya mereka dari hasil generasi AI. Saat ini, terdapat banyak alternatif label tanpa AI yang berusaha menyelesaikan masalah ini dengan kriteria kelayakan dan pendekatan autentikasi yang beragam. Beberapa di antaranya bersifat spesifik industri, seperti sertifikasi “human authored” dari Authors Guild untuk buku dan karya tulis lainnya, yang tidak dapat diterapkan secara luas.
Solusi lain seperti Proudly Human dan Not by AI bertujuan lebih luas, mencakup teks yang diterbitkan, seni visual, videografi, dan musik. Namun, proses verifikasi yang digunakan oleh layanan ini tidak selalu dapat diandalkan. Beberapa, seperti Made by Human, bekerja berdasarkan kepercayaan, memungkinkan badge dan label untuk diunduh dan diterapkan tanpa verifikasi asal-usul yang jelas. Sementara itu, No-AI-Icon mengklaim melakukan inspeksi visual dan memeriksa karya melalui layanan deteksi AI, yang sering kali tidak akurat.
Tantangan dalam Membedakan Karya Manusia dan AI
Sebagian besar layanan yang ada saat ini masih melakukan verifikasi secara manual, meminta kreator untuk menunjukkan proses kerja mereka kepada auditor manusia, seperti sketsa dan draf tulisan. Meskipun cara ini sangat memakan waktu, tanpa adanya teknologi yang lebih canggih, ini adalah metode paling dapat diandalkan untuk memastikan keaslian karya tersebut.
Namun, ada tantangan lain, yaitu mendefinisikan apa yang dimaksud dengan “buatan manusia”. Dengan adanya AI yang terintegrasi dalam banyak alat kreatif dan didorong oleh pendidik kreatif, di mana kita harus menggambar batasannya? Jonathan Stray, ilmuwan senior di UC Berkeley Center for Human-Compatible AI, mengatakan, “Masalahnya akan berkaitan dengan definisi dan verifikasi. Apakah berdiskusi dengan LLM tentang ide sebelum melaksanakannya secara manual dihitung sebagai penggunaan AI? Dan bagaimana cara pencipta membuktikan tidak ada AI yang terlibat?”
Kesimpulan
Konsensus tentang apa yang dianggap sebagai karya buatan manusia dan AI masih menjadi perdebatan yang kompleks. Namun, penting bagi kita untuk menemukan cara untuk menandai karya buatan manusia agar dapat dikenali dengan jelas di tengah arus konten yang dihasilkan oleh AI. Dengan begitu, kita dapat menghargai kreativitas asli dan memberikan dukungan kepada para kreator yang berisiko terpinggirkan oleh kemajuan teknologi.
