Wak’a dari Los Thuthanaka: EP yang Lebih Halus dan Menarik

Los Thuthanaka, sebuah grup musik yang meraih perhatian besar tahun lalu, kembali dengan EP terbaru mereka berjudul Wak’a. Setelah sukses dengan album debut mereka yang menyita perhatian Pitchfork, grup ini kini menghadirkan suara yang lebih halus dan mendayu-dayu. EP ini menjadi penting karena menunjukkan perkembangan musikal mereka dan menawarkan pengalaman baru bagi para pendengar.

Album debut Los Thuthanaka yang diberi nama sama sempat menggegerkan dunia musik, meski tidak tersedia di platform streaming, sehingga banyak orang yang tidak menyadari keberadaannya. Namun, berkat pengakuan Pitchfork sebagai album terbaik tahun lalu, grup ini menjadi sorotan. Suara mereka yang unik dan menonjol, seolah datang dari speaker Bluetooth yang rusak di halaman belakang, menciptakan perasaan kegembiraan dan ketidakpastian yang menyenangkan.

Perubahan Suara di EP Wak’a

EP Wak’a menandai perubahan signifikan dalam pendekatan musikal mereka. Dengan tempo yang lebih lambat dan beberapa elemen yang lebih halus, EP ini menggunakan palet suara yang sama dengan album sebelumnya, menggabungkan instrumen tradisional Bolivia dan elemen rock psikedelik. Namun, Wak’a juga menunjukkan pengaruh dari genre shoegaze, dengan progresi akor dan melodi yang lebih lembut, serta gitar yang dipenuhi fuzz dan reverb.

Di dalam tiga lagu yang berdurasi hanya 18 menit, para anggota keluarga Chuquimamani-Condori dan Joshua Chuquimia Crampton menyajikan interpretasi audio dari legenda penciptaan Aymara tentang matahari pertama. Pembeli EP ini di Bandcamp juga akan mendapatkan PDF yang bercerita dalam bahasa Aymara, kolaborasi dengan Ch’ama Native Americas, yang semakin menambah kekayaan budaya dalam karya mereka.

Atmosfer dan Emosi dalam Setiap Lagu

Secara keseluruhan, EP ini menciptakan suasana dunia yang muncul dari kegelapan. Lagu pembuka “Quta (capo-kullawada)” dimulai dengan drone synth rendah dan suara jangkrik sebelum melodi gitar yang terinspirasi dari Eno dan ritme drum yang terdistorsi. Di sisi lain, lagu “Wara Wara (capo-kullawada)” menghadirkan keindahan sekaligus ketakutan. Dinding suara yang menindas ini mungkin mengingatkan kita pada sinar matahari pertama yang menyilaukan setelah hidup dalam kegelapan yang abadi. Momen puncak dari lagu ini menghadirkan kolaborasi suara alat musik tiup, keyboard, vokal mendengung, dan gitar yang tidak simetris dalam satu inferno yang kacau.

Lagu “Ay Kawkinpachasa? (capo-kullawada)” menjadi penutup yang menenangkan, meskipun memiliki aransemen yang padat. Berbagai alat musik seperti akordeon, biola, dan keyboard saling berebut ruang suara, sementara gitar yang terputus-putus mengambil alih menjelang akhir EP.

Dampak bagi Pendengar di Indonesia

Bagi para pendengar yang merasa album debut Los Thuthanaka terlalu agresif, EP Wak’a menawarkan pengenalan yang lebih ramah terhadap suara unik mereka. Musik ini tidak hanya memberi pengalaman mendengarkan yang beragam, tetapi juga mengajak pendengar untuk merenungkan cerita dan budaya Aymara. Dalam konteks Indonesia, karya ini bisa menjadi jembatan untuk memahami kekayaan budaya dari belahan dunia lain, memperluas wawasan musik dan seni.

Kesimpulan

EP Wak’a dari Los Thuthanaka kini tersedia di Bandcamp dan patut untuk didengarkan. Dengan pendekatan yang lebih halus, grup ini berhasil menghadirkan karya yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga kaya akan makna dan cerita. Bagi para pencinta musik yang mencari sesuatu yang berbeda, Wak’a adalah pilihan tepat untuk eksplorasi lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*