Dokumenter ‘The AI Doc’: Antara Kecemasan dan Harapan AI

Kita sedang berada di tengah dorongan besar untuk mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) generatif ke dalam hampir setiap aspek kehidupan kita. Namun, masih banyak yang bingung tentang apa sebenarnya AI itu dan bagaimana cara kerjanya. Hal ini diperparah dengan banyaknya pendukung dan penentang AI yang berbicara dengan hiperbola berlebihan, seolah-olah sedang membuat iklan fantastis. Kecepatan perusahaan AI merilis iterasi baru produk mereka juga membuat sulit untuk mengikuti perkembangan industri secara keseluruhan.

Dalam dokumenter berjudul The AI Doc: Atau Bagaimana Saya Menjadi Seorang Apocaloptimist, sutradara Daniel Roher dan Charlie Tyrell mencoba menjelaskan momen kebangkitan AI generatif ini. Film ini menampilkan para peneliti, pengembang, dan CEO perusahaan AI generatif — orang-orang yang seharusnya dihadirkan dalam sebuah dokumenter yang membahas asal usul dan masa depan teknologi ini. Namun, meskipun akses yang luar biasa diperoleh oleh tim produksi, dokumenter ini nyaris tidak berusaha memanfaatkan informasi tersebut dengan baik. The AI Doc diproduksi dengan imajinasi tinggi dan arahan seni yang cerdas, tetapi kurang substansi dan tidak menyampaikan wawasan yang benar-benar mendalam tentang topiknya.

Saat ini, ketika banyak orang sebenarnya membutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana AI generatif sudah memengaruhi kehidupan mereka, dokumenter ini gagal memenuhi kebutuhan tersebut. The AI Doc juga menceritakan kecemasan seorang individu (Roher) tentang dampak AI generatif terhadap masyarakat. Di awal film, Roher, yang memenangkan Oscar di 2023 untuk dokumenternya Navalny, memperkenalkan dirinya sebagai seseorang yang tidak memiliki pemahaman mendalam tentang model-model seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini. Namun, ia mendengar berita-berita mengkhawatirkan mengenai bagaimana AI generatif dapat menciptakan mesin yang dapat menghancurkan umat manusia, yang membuatnya cemas karena ia dan istrinya, Caroline Lindy, sedang mengharapkan bayi. Roher ingin memahami teknologi baru ini yang membuatnya bertanya-tanya, dunia seperti apa yang akan dihadapi anaknya kelak.

Dokumenter ini disusun dalam empat bab yang menggambarkan perjalanan emosional Roher saat ia mewawancarai para pesimis, akselerasionis, akademisi, dan beberapa eksekutif terkuat di industri. Roher mulai dengan pesimis seperti pendiri Center for Humane Technology, Tristan Harris dan Aza Raskin, yang menganggap AI sebagai ancaman eksistensial yang dapat menyebabkan keruntuhan sosial. Salah satu narasumber bahkan menyatakan bahwa mungkin akan ada pemberontakan robot yang berakhir dengan kehancuran umat manusia, di mana dokumenter ini menampilkan cuplikan dari film The Terminator dan The Matrix. Saat Roher menanyakan apakah skenario apokaliptik ada di depan mata, para kritikus AI dalam dokumenter ini sering menjawab dengan variasi mengerikan dari kata “mungkin” dan “kemungkinan besar.” Tipe ketakutan ini merupakan salah satu bentuk iklan yang paling menonjol yang digunakan perusahaan AI untuk meyakinkan orang bahwa produk mereka harus diperhatikan.

Roher, yang mempersembahkan dirinya sebagai wakil penonton yang polos, tampaknya menganggap pernyataan-pernyataan ini secara harfiah. Hal ini terasa sangat jelas ketika ia mengarahkan kamera ke dirinya sendiri untuk merenung tentang beratnya tanggung jawab menjadi seorang ayah. Menariknya, The AI Doc tidak pernah menyempatkan diri untuk mengeksplorasi bagaimana AI telah mengubah aspek filmmaking, sesuatu yang seharusnya menjadi perhatian seorang seniman dan sutradara seperti Roher, yang sketsa dan lukisannya digunakan dalam dokumenter ini untuk menggambarkan perasaannya. Kurangnya komentar mengenai dampak AI terhadap Hollywood dan kehidupan profesional kreatif terasa sangat mencolok, terutama karena The AI Doc mengandalkan urutan animasi yang diproduksi oleh studio Stop Motion Department di Toronto untuk mengilustrasikan poin-poin pentingnya.

Pandangan pesimis Roher tentang AI mulai berubah ketika dokumenter ini memperkenalkan para optimis seperti presiden dan salah satu pendiri Anthropic, Daniela Amodei, dan pendiri LinkedIn, Reid Hoffman, yang bersikeras bahwa sekarang adalah waktu yang ideal untuk menjadi orang tua karena AI akan segera membuka semua kemungkinan baru. Sebagai pembaca di Indonesia, penting untuk memahami bagaimana perkembangan teknologi ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan kita, baik dalam konteks sosial, ekonomi, maupun kreatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*